Sepi Massa, Warga Baktiraja Sebut Demo yang Dipimpin Zeki Munthe ke PT BEL Salah Sasaran
Zeki Munthe dalam surat pemberitahuan aksinya kepada yang berwajib menyampaikan, bahwa aksi itu sejatinya mewakili 200 orang warga yang terdampak oleh aktivitas PLTMH PT BEL.
Namun, pengamatan wartawan, kehadiran warga dalam aksi di lapangan hanya 15 orang. Dan menurut hasil pemantauan petugas, hanya segelintir orang di antaranya yang terdampak langsung oleh aliran irigasi dari proyek PLTMH.
Tampak di lokasi, petugas kepolisian Polres Humbahas mengamankan jalannya aksi. Polisi juga turut memfasilitasi jalannya dialog antara perwakilan massa dan pihak PT BEL.
Dalam keterangan persnya, Kapolres Humbahas AKBP Arthur Sameaputty melalui Kasubbag Humas Polres Humbahas Ipda DHP Sitompul menyebut, bahwa dalam pertemuan dialog tersebut, manajemen perusahaan menyatakan komitmennya untuk bersedia meninjau saluran irigasi yang dikeluhkan. Mereka juga akan mengambil langkah perbaikan sesuai kondisi lapangan.
Respon PT BEL dalam meninjau irigasi adalah berdasarkan permintaan para pendemo. Selain itu, massa yang hadir juga menyampaikan beberapa tuntutan kepada perusahaan, seperti penagihan janji pembangunan jalan dan lampu jalan yang telah disampaikan perusahaan sejak tahun 2017.
"(Pendemo) juga menolak terhadap rencana pembangunan PLTMH baru di wilayah Baktiraja", kata DHP Sitompul.
Sementara itu, aksi ini menuai perhatian publik karena ketidaksesuaian antara klaim jumlah warga terdampak dan fakta di lapangan. Beberapa pihak menilai bahwa penyampaian aspirasi masyarakat sebaiknya dilakukan melalui jalur formal yang lebih representatif, seperti melalui kepala desa atau perwakilan resmi warga terdampak, agar solusi yang diambil benar-benar mengena dan tepat sasaran.
Salah satu warga Baktiraja sekaligus Aktivis Lingkungan Mahmud Padang, bahkan menilai, bahwa aksi unjuk rasa yang digawangi Zeki Munthe itu merupakan demo yang salah sasaran.
Ia mengungkapkan, bahwa perihal gangguan irigasi pertanian di Kecamatan Baktiraja sebenarnya tidak disebabkan oleh aktivitas PT BEL. Naik turunnya debit air di Sungai Aek Silang, kata dia, lebih berpengaruh dari akibat adanya sejumlah penebangan kayu di hulu sungai tersebut.
Dia menjelaskan, bahwa persoalan mengenai tidak terkontrolnya debit air, lebih dimungkinkan dari akibat banyak saat ini lokasi-lokasi tangkapan air yang sudah gundul.
Akibatnya, sambung dia, jika musim hujan, debit air bisa tiba-tiba naik dan bahkan menyebabkan kebanjiran seperti peristiwa sebelumnya. Sebaliknya, jika kemarau, debit air akan susut.
"Hal itu karena tidak ada lagi akar-akar pohon yang mengontrol stabilitas debit air", ujar Mahmud.
Titik masalah irigasi yang terganggu, kata Mahmud, sebaiknya dikaji secara mendalam dan serius dengan berfokus pada sumber, atau hulu sungai.
"Karena kuncinya ada di sana (hulu). Sebaiknya mereka (massa) lebih objektif jika mereka menuntut maraknya penebangan kayu saat ini, terutama di kawasan hutan", tambahnya.
Pun demikian, Mahmud menilai, bahwa perusahaan PT BEL telah menunjukkan sikap ksatria mereka.
"Meski demikian, PT BEL tetap menunjukkan sikap terbuka terhadap setiap masukan yang disampaikan. Mereka bersedia menerima pendemo. Itu bagus", pungkasnya. (H.s)

Komentar
Posting Komentar