Langsung ke konten utama

APBD Runtuh, Pendidikan Dikorbankan: Alarm Keras Kegagalan Kepemimpinan

Editorial  Oleh : Redaksi SabtaNews. com Ketika Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) Reguler dihentikan total dengan alasan keterbatasan anggaran, sesungguhnya yang runtuh bukan sekadar satu pos belanja. Yang ambruk adalah klaim kepemimpinan daerah atas kemampuan mengelola kepercayaan publik dan masa depan generasi. Tidak ada krisis anggaran yang berdiri sendiri. Defisit bukan musibah alam. Ia lahir dari serangkaian keputusan politik, salah kelola prioritas, dan ketidakmampuan membaca arah ekonomi daerah. Maka ketika pendidikan layanan paling mendasar yang pertama kali dikorbankan, publik berhak menyimpulkan: kepemimpinan telah gagal menjalankan fungsi dasarnya. *Lebih mengkhawatirkan, kegagalan itu kini sedang dinormalisasi* Alih-alih koreksi menyeluruh, yang ditawarkan justru solusi darurat yang menyesatkan: menghidupkan kembali sumbangan komite sekolah. Subsidi silang dijadikan tameng moral. “Tidak mengikat” dijadikan jargon administratif. Padahal semua orang tahu, di ruan...

APBD Runtuh, Pendidikan Dikorbankan: Alarm Keras Kegagalan Kepemimpinan


Editorial 

Oleh : Redaksi SabtaNews. com

Ketika Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) Reguler dihentikan total dengan alasan keterbatasan anggaran, sesungguhnya yang runtuh bukan sekadar satu pos belanja. Yang ambruk adalah klaim kepemimpinan daerah atas kemampuan mengelola kepercayaan publik dan masa depan generasi.

Tidak ada krisis anggaran yang berdiri sendiri. Defisit bukan musibah alam. Ia lahir dari serangkaian keputusan politik, salah kelola prioritas, dan ketidakmampuan membaca arah ekonomi daerah. Maka ketika pendidikan layanan paling mendasar yang pertama kali dikorbankan, publik berhak menyimpulkan: kepemimpinan telah gagal menjalankan fungsi dasarnya.

*Lebih mengkhawatirkan, kegagalan itu kini sedang dinormalisasi*

Alih-alih koreksi menyeluruh, yang ditawarkan justru solusi darurat yang menyesatkan: menghidupkan kembali sumbangan komite sekolah. Subsidi silang dijadikan tameng moral. “Tidak mengikat” dijadikan jargon administratif. Padahal semua orang tahu, di ruang kelas dan ruang rapat sekolah, beban itu tetap jatuh ke pundak orang tua—dan paling berat dirasakan oleh yang paling lemah.

Inilah bentuk privatisasi terselubung pendidikan publik. Negara tidak lagi hadir penuh, tetapi tetap ingin terlihat bertanggung jawab.

Narasi yang mulai dibangun bahwa pendidikan gratis perlu dievaluasi karena membebani anggaran adalah pengalihan kesalahan yang tak bermoral. Pendidikan gratis tidak pernah menjadi masalah. Yang bermasalah adalah kepemimpinan yang tak sanggup menjaga konsistensi kebijakan dan keberpihakan anggaran.

Jika hari ini pendidikan dianggap beban, besok layanan kesehatan akan menyusul. Lusa, bantuan sosial. Inilah pola klasik negara yang kehabisan arah: menarik diri perlahan dari tanggung jawab, sambil menyalahkan konsep pelayanan publik itu sendiri.

Mengandalkan dana pusat sambil menyuruh sekolah “lebih kreatif mengatur anggaran” bukan solusi, melainkan pengakuan ketidakmampuan. Sekolah bukan perusahaan. Kepala sekolah bukan manajer krisis fiskal. Mereka pendidik, bukan penyangga kegagalan APBD.

Pada titik ini, persoalan Riau bukan lagi soal pendidikan gratis atau tidak gratis. Persoalannya adalah krisis kepemimpinan dan keberanian politik. Keberanian untuk berkata jujur kepada publik: ke mana anggaran selama ini diarahkan, siapa yang diuntungkan, dan mengapa anak-anak justru yang diminta berkorban.

Sejarah selalu kejam kepada pemimpin yang menjadikan anak bangsa sebagai korban kebijakan.

Sebab ketika ruang kelas mulai goyah, gelombang ketidakpercayaan akan bergerak keluar dari sekolah, menuju ruang publik, dan akhirnya ke pusat kekuasaan.

Jika peringatan ini tetap diabaikan, maka satu hal tak bisa dihindari:

yang akan bergemuruh bukan sekadar protes orang tua, tetapi pertanyaan kolektif tentang legitimasi kepemimpinan itu sendiri.

Dan pada saat itu, semua alasan anggaran tak lagi berarti.

*Catatan Redaksi*

Redaksi memandang penghentian BOSDA Reguler bukan sekadar kebijakan anggaran, melainkan alarm serius atas arah pengelolaan keuangan dan kepemimpinan daerah. Ketika layanan dasar seperti pendidikan menjadi korban pertama keterbatasan fiskal, publik berhak menuntut keterbukaan, evaluasi menyeluruh, dan koreksi kebijakan secara terbuka.

Redaksi mendorong agar Inspektorat Daerah, DPRD, dan lembaga pengawas terkait tidak berhenti pada pembenaran normatif, melainkan melakukan penelusuran serius atas prioritas belanja APBD, efektivitas penggunaan anggaran, serta dampaknya langsung terhadap hak dasar masyarakat.

Anak-anak sekolah tidak boleh dijadikan penyangga kegagalan tata kelola.

Jika koreksi tidak segera dilakukan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya mutu pendidikan, tetapi kepercayaan publik terhadap kepemimpinan daerah itu sendiri.

Redaksi akan terus mencatat, mengawal, dan menyuarakan kepentingan anak bangsa—karena masa depan tidak boleh dikalahkan oleh alasan anggaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasus Gantung Diri di RSJ Tampan Diduga Petugas Jaga Lalai Mengontrol CCTV

PEKANBARU, SABTANEWS.COM  - Terkait meninggalnya pasien RSJ Tampan yang diduga gantung diri, pihak keluarga korban AN menduga adanya kelalain petugas sehingga pasien gantung diri, ungkap Fiil Kunto ( keluarha dekat almarhum Ahmad Nurhadi )  saat dijumpai untuk memberikan keterangan di Polresta Pekanbaru, Rabu (30/4/2025). "Dimana, berdasarkan rekaman cctv yang ditunjukan Kepolisian kepada kami adanya percobaan gantung diri adik kami tersebut sebanyak dua kali percobaan", ucap Fiil. "Berdasarkan jam di rekaman cctv, percobaan gantung diri pertama terjadi pada hari Jumat (25/4) dipukul 05.46 sore, tapi gagal bunuh dirinya, karena kain atau baju yang dipakai korban melorot. Kemudian diulang lagi mengikat dipukul 05.48 dan dipukul 05.50 barulah diilitan dilehar turun dan menggantung, kemudian dipukul 5.52 badan korban masih bergerak dan gantung diri tersebut dijendela", terang Fiil. "Dan dipukul 05.58 baru ditemukan gantung diri oleh 3 orang petugas dan dinyatakan ...

Ikut Meriahkan HBP ke-61, Sekda Rohul Hadir di Lapas Pasir Pangarayan

PASIR PANGARAYAN, SABTANEWS.COM  - Puncak Hari Bakti Pemasyarakatan (Hbp) ke 61 Tahun 2025 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Pasir Pangarayan berlangsung khidmat dan meriah pada Senin (28/4/2025). Kegiatan puncak ini dilaksanakan Tasyakuran secara serentak seluruh jajaran Pemasyarakatan Indonesia via zoom meeting. Hadir langsung di Lapas Pasir Pangarayan Bupati Rokan Hulu Anton,S.T.M.M yang diwakilkan Sekretaris Daerah M. Zaki,Ketua Dprd Rokan Hulu Hj Sumiartini, Kepala Kejaksaan Negeri Rokan Hulu, Ketua Pengadilan Negeri Pasir Pengaraian, Ketua Pengadilan Agama Pasir Pengaraian,dan Kepala Kementerian Agama Rohul. Dalam sambutan nya via virtual Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyampaikan Enam puluh satu tahun Pemasyarakatan, bukan sekadar hitungan waktu. Ini juga setara dengan ribuan kisah pengabdian, ribuan pekik perjuangan dan tentunya kesediaan tanpa pamrih dari para petugas yang bekerja dalam sunyi, menjaga api pembinaan tetap menyala di tengah ge...

Kejati Riau Geledah Kantor Disdikbud Rohil, Usut Dugaan Korupsi DAK Rp40 Miliar

Serangkaian kegiatan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau menggeledah Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) di Bagansiapiapi, Rabu (30/4/2025). Langkah ini merupakan bagian dari penyidikan kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan dan rehabilitasi Sekolah Dasar (SD) tahun anggaran 2023. ROKAN HILIR, SABTANEWS.COM – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau menggeledah Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) di Bagansiapiapi, Rabu (30/4/2025). Langkah ini merupakan bagian dari penyidikan kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan dan rehabilitasi Sekolah Dasar (SD) tahun anggaran 2023. “Penggeledahan dilakukan oleh Tim Penyidik pada Bidang Tindak Pidana Khusus Kejati Riau,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Riau, Zikrullah. Dari penggeledahan itu, penyidik menyita sejumlah dokumen penting dan satu unit laptop yang diduga digunakan untuk menyusun rekapitulasi dana proyek. Data awal m...