Kirangan Tumben Desa Tukum: Harmoni Kebhinekaan yang Hidup di Tengah Masyarakat
Ribuan warga dari berbagai usia, suku, dan latar belakang turut berpartisipasi dalam acara ini. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat ikatan sosial.
Pawai seni dan budaya menampilkan musik tradisional, tarian, reog, serta gunungan yang melambangkan harmoni dalam keberagaman. Anak-anak, remaja, hingga lansia berjalan berdampingan, saling menyemangati, dan merayakan budaya desa bersama. Warna-warni kain batik, alunan gamelan, serta kreativitas warga menjadi simbol bahwa kebhinekaan adalah warisan luhur yang terus dijaga.
Kepala Desa Tukum, Susanto, menegaskan bahwa Kirangan Tumben merupakan sarana desa dalam merawat kebhinekaan.
“Kirangan Tumben adalah sarana bagi desa untuk mengambil bagian aktif dalam merawat kebhinekaan. Warga Desa Tukum menunjukkan bahwa perbedaan adalah kekuatan yang menyatukan, sekaligus sarana menanamkan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi muda,” ujarnya di Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Minggu (31/8/2025).
Selain itu, Kirangan Tumben memperlihatkan kekuatan solidaritas sosial berbasis kebhinekaan. Warga saling bahu-membahu menyiapkan dekorasi maupun gunungan hasil bumi, menjaga kelancaran acara, serta menyambut tamu dari desa sekitar. Keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat menegaskan bahwa desa adalah ruang hidup yang menjaga keberagaman, persatuan, dan nilai kemanusiaan.
Hal ini menegaskan bahwa Desa Tukum secara nyata berperan dalam merawat kebhinekaan, melestarikan warisan budaya, dan menumbuhkan persatuan lintas generasi.
Kirangan Tumben di Desa Tukum menjadi inspirasi bahwa kebhinekaan bukan sekadar simbol, tetapi praktik hidup yang membangun masyarakat inklusif, harmonis, dan berbudaya.
Senada dengan hal itu, warga Desa Tukum, Supadmi (50), mengaku kegiatan tersebut membawa dampak positif bagi kebersamaan warga.
“Kirangan Tumben iki nggawe aku luwih cedhak karo tetanggan. Senajan beda-beda, kabeh bisa nyawiji ngrayakake budaya desa. Iki pancen nggawe atiku anget (Kirangan Tumben ini membuat saya lebih dekat dengan tetangga. Walaupun berbeda-beda, semua bisa bersatu merayakan budaya desa. Ini benar-benar membuat hati saya hangat, red),” katanya.
(MC Kab. Lumajang/KIM Tukum Mandiri/Wulan/An-m)

Komentar
Posting Komentar