Editorial Oleh : Redaksi SabtaNews. com Ketika Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) Reguler dihentikan total dengan alasan keterbatasan anggaran, sesungguhnya yang runtuh bukan sekadar satu pos belanja. Yang ambruk adalah klaim kepemimpinan daerah atas kemampuan mengelola kepercayaan publik dan masa depan generasi. Tidak ada krisis anggaran yang berdiri sendiri. Defisit bukan musibah alam. Ia lahir dari serangkaian keputusan politik, salah kelola prioritas, dan ketidakmampuan membaca arah ekonomi daerah. Maka ketika pendidikan layanan paling mendasar yang pertama kali dikorbankan, publik berhak menyimpulkan: kepemimpinan telah gagal menjalankan fungsi dasarnya. *Lebih mengkhawatirkan, kegagalan itu kini sedang dinormalisasi* Alih-alih koreksi menyeluruh, yang ditawarkan justru solusi darurat yang menyesatkan: menghidupkan kembali sumbangan komite sekolah. Subsidi silang dijadikan tameng moral. “Tidak mengikat” dijadikan jargon administratif. Padahal semua orang tahu, di ruan...
Napan,NTT, SABTANEWS.COM - Perhatikan masyarakat yang ada di daerah perbatasan, Pos Napan Satgas Yonkav 6/Naga Karimata berbagi sembako kepada salah satu Masyarakat yang ada di Desa Napan, Kec. Bikomi Utara, Kab. TTU, Prov. NTT. (20/5/24)
Dalam rangka kepedulian terhadap masyarakat di daerah perbatasan, Pos Napan Satgas Yonkav 6/Naga Karimata memberikan bantuan berupa sembako kepada Bapa Darius Siki. Pemberian sembako ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan dan membantu kelangsungan hidup mereka.
"Terima kasih kepada TNI yang telah memberikan bantuan sembako ini. Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat bagi kami dan juga bapak tentara." Ujar Bapa Darius

Komentar
Posting Komentar