Skripsi yang ia pertahankan berjudul “Implementasi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers terhadap Perlindungan Wartawan dalam Mewujudkan Kemerdekaan Pers.” Sebuah topik yang menuntut ketajaman analisis sekaligus keberanian akademik.
Di hadapan para penguji, Jonrius mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai peneliti. Ketua Penguji, Dr. (c.) Winda Roselina Effendi, S.I.P., M.I.P., bersama dua Penguji lainnya, Dr. Seftia Azrianti, S.H., M.H., dan Rabu, S.H., M.H., menilai karya tersebut memiliki kekuatan pada analisis.
“Bapak sudah mampu menganalisis, bukan hanya mengutip wawancara. Peneliti hadir di dalam penelitian. Data primer dan sekunder sudah terpenuhi. Secara keseluruhan sesuai kaidah penulisan,” ungkapnya.
Pengakuan itu menjadi energi besar. Terlebih bagi Jonrius yang menjalani kuliah sambil memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Detik penentuan kelulusan menjadi klimaks. Saat kalimat lulus dengan nilai sangat memuaskan dibacakan, ruang sidang seakan berubah menjadi ruang syukur.
Jonrius menundukkan kepala, berterima kasih dalam hati.
Di luar ruangan, dua anaknya, Cornelius Nielsen Sinurat (12) dan Nelly Laurentia Sinurat (8) sudah menunggu. Mereka mungkin tidak mengikuti seluruh dinamika akademik di dalam, tetapi mereka memahami satu hal: ayah mereka sedang berjuang.
“Kami melihat sendiri Papa belajar sampai larut. Hari ini kami ikut merasakan hasilnya,” kata Nelly.
Cornelius menambahkan, “Semoga Papa terus maju dan jadi kebanggaan banyak orang,” ujarnya dengan semangat.
Sementara itu, sang istri Lianni Nababan yang tidak bisa hadir secara fisik karena bekerja, menyampaikan pesan penuh cinta.
“Perjuangan ini panjang. Saya menyaksikan setiap lelahnya. Tapi saya juga percaya, Tuhan tidak pernah tidur. Hari ini adalah hadiah,” ucapnya.
Banjir ucapan selamat datang dari pimpinan universitas, jajaran fakultas, para dosen pembimbing, hingga kerabat dan sahabat. Dukungan itu menjadi bukti bahwa keberhasilan seseorang tak pernah berdiri sendiri.
Menariknya, kebahagiaan belum berhenti sampai di situ.
Beberapa jam setelaDari Perjuangan ke Kebanggaan, Jonrius Sinurat Lulus Sarjana Hukum di UNRIKA
h sidang, ibunda Jonrius menelepon. Tanpa tahu bahwa anaknya baru saja lulus, ia hanya ingin mendengar kabar. Ketika diberi tahu tentang kelulusan tersebut, sang ibu spontan bersyukur.
“Berarti ini gerakan batin,” kata Jonrius menirukan ucapan ibunya, sebuah kalimat sederhana yang justru menggetarkan hati.
Setelah semuanya usai, Jonrius, kedua anaknya, dan teman-teman seperjuangan memanfaatkan waktu untuk berfoto di berbagai sudut kampus. Tawa pecah, rasa lelah luruh, digantikan harapan.
Dalam refleksinya, Jonrius menyebut hari itu sebagai salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya.
“Terima kasih untuk semua doa, dukungan, dan kepercayaan. Ini bukan akhir, tapi awal untuk melangkah lebih jauh,” ujarnya.
Kelulusan ini bukan sekadar akademik. Ia adalah simbol bahwa tekad, ketika dirawat dengan kesabaran, pada waktunya akan berubah menjadi kemenangan.
Dan kini, Jonrius Sinurat, S.H., menatap masa depan dengan keyakinan baru.

Komentar
Posting Komentar