Langsung ke konten utama

Sebelum Apel, Kalapas Kelas I Bandar Lampung Masak Bareng Warga Binaan Bersertifikat di Dapur Sehat

BANDAR LAMPUNG, SABTANEWS.COM – Rutinitas Senin pagi (5/1/2026) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Bandar Lampung diawali dengan pemandangan inspiratif. Sebelum pelaksanaan apel pagi pegawai, Kepala Lapas Kelas I Bandar Lampung, Ike Rahmawati, menyempatkan diri menyambangi Dapur Sehat untuk memantau langsung proses produksi makanan bagi ribuan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kunjungan ini tidak sekadar inspeksi administratif semata. Ike Rahmawati terlibat aktif, mulai dari memeriksa kelengkapan data bahan makanan hingga turun tangan langsung mengaduk masakan di kuali besar. Menariknya, dalam proses tersebut Kalapas Kelas I Bandar Lampung berkolaborasi langsung dengan para juru masak yang merupakan Warga Binaan pilihan. Bukan sembarang pekerja, mereka adalah tenaga terampil yang telah melewati pelatihan tata boga intensif dan mengantongi sertifikasi kompetensi resmi. "Saya bangga melihat kinerja mereka. Di sini saya tidak hanya mengecek data, tapi ikut masak untuk memasti...

Suara Perempuan Tak Lagi Didengar Pasca Pilkada: Ketika Kekuasaan Lebih Memilih Kolega



Oleh Sabam Tanjung

Artikel Opini 

Demokrasi elektoral seharusnya tidak berhenti di bilik suara. Namun dalam praktiknya, pasca Pilkada, yang sering terjadi justru sebaliknya: suara rakyat terutama perempuan perlahan dipinggirkan, sementara lingkaran kekuasaan semakin menyempit pada kolega, kerabat, dan jejaring kepentingan.

Dalam setiap tahapan Pilkada, perempuan memegang peran yang sangat strategis. Mereka bukan hanya pemilih, tetapi penggerak. Dari dapur ke posyandu, dari arisan ke majelis taklim, perempuan khususnya ibu-ibu menjadi simpul utama penyebaran pesan politik dan pembentuk opini publik. Tanpa keterlibatan mereka, banyak kandidat tak akan sampai ke kursi kekuasaan.

Namun ironi demokrasi itu muncul setelah kemenangan diraih.

Dari Pendukung Menjadi Penonton


Pasca-Pilkada, tidak sedikit perempuan pendukung kepala daerah justru merasa kehilangan ruang partisipasi. Aspirasi yang dulu didengar kini tak lagi mendapat tempat. Mereka tidak diajak bicara, tidak dilibatkan dalam perumusan kebijakan, bahkan tidak lagi menjadi bagian dari percakapan publik pemerintah daerah.

Yang mengemuka justru lingkaran baru:

" Tim inti, kolega politik, keluarga, hingga penyokong modal.

" Keputusan publik perlahan bergeser dari ruang partisipatif ke ruang eksklusif.

Dalam kondisi seperti ini, perempuan kembali ditempatkan bukan sebagai subjek demokrasi, melainkan objek kampanye yang tugasnya dianggap selesai setelah pencoblosan.

Kekuasaan yang Menutup Telinga

Ketika kepala daerah lebih mendengar kolega ketimbang konstituen, terutama perempuan akar rumput, maka demokrasi kehilangan makna substansialnya. Kekuasaan berubah menjadi urusan segelintir orang, bukan lagi alat untuk memperjuangkan kepentingan publik.

Lebih memprihatinkan, dalam situasi politik yang didominasi relasi kuasa informal dan kepentingan pragmatis, suara perempuan sering kali dianggap lemah, emosional, dan tidak strategis. Padahal justru merekalah yang paling dekat dengan realitas sosial: harga kebutuhan pokok, akses pendidikan, layanan kesehatan, dan ketahanan keluarga.

Luka yang Tak Bersuara

Yang paling menyedihkan, banyak perempuan tidak meluapkan kekecewaannya dengan amarah. Mereka memilih diam, menunggu, dan berharap. Kesedihan itu tidak meledak di jalanan, tapi tersimpan dalam perasaan dikhianati oleh janji perubahan yang dulu dielu-elukan.

" Diamnya perempuan bukan tanda mereka setuju.

" Sering kali itu tanda mereka lelah tidak didengar.

" Mengembalikan Etika Demokrasi

Kepala daerah yang lahir dari suara perempuan memiliki tanggung jawab moral untuk tetap membuka ruang dialog dan partisipasi. Melibatkan perempuan dalam kebijakan bukan hadiah politik, melainkan kewajiban demokratis.

Jika tidak, maka Pilkada hanya akan menjadi ritual lima tahunan:

" Perempuan dipeluk saat kampanye, lalu dilupakan saat kekuasaan telah aman di genggaman.

Dan ketika suara perempuan terus diabaikan, yang runtuh bukan hanya kepercayaan, tetapi legitimasi moral kekuasaan itu sendiri.

Perempuan jarang diberi ruang keputusan

Mereka dilibatkan saat kampanye, tapi tidak masuk dalam perencanaan anggaran, program, atau kebijakan.

Kalau demokrasi mau jujur dan sehat.Emak-emak harus naik kelas dari relawan menjadi pengawas kebijakan dari pendukung menjadi mitra kritis pemerintah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasus Gantung Diri di RSJ Tampan Diduga Petugas Jaga Lalai Mengontrol CCTV

PEKANBARU, SABTANEWS.COM  - Terkait meninggalnya pasien RSJ Tampan yang diduga gantung diri, pihak keluarga korban AN menduga adanya kelalain petugas sehingga pasien gantung diri, ungkap Fiil Kunto ( keluarha dekat almarhum Ahmad Nurhadi )  saat dijumpai untuk memberikan keterangan di Polresta Pekanbaru, Rabu (30/4/2025). "Dimana, berdasarkan rekaman cctv yang ditunjukan Kepolisian kepada kami adanya percobaan gantung diri adik kami tersebut sebanyak dua kali percobaan", ucap Fiil. "Berdasarkan jam di rekaman cctv, percobaan gantung diri pertama terjadi pada hari Jumat (25/4) dipukul 05.46 sore, tapi gagal bunuh dirinya, karena kain atau baju yang dipakai korban melorot. Kemudian diulang lagi mengikat dipukul 05.48 dan dipukul 05.50 barulah diilitan dilehar turun dan menggantung, kemudian dipukul 5.52 badan korban masih bergerak dan gantung diri tersebut dijendela", terang Fiil. "Dan dipukul 05.58 baru ditemukan gantung diri oleh 3 orang petugas dan dinyatakan ...

Ikut Meriahkan HBP ke-61, Sekda Rohul Hadir di Lapas Pasir Pangarayan

PASIR PANGARAYAN, SABTANEWS.COM  - Puncak Hari Bakti Pemasyarakatan (Hbp) ke 61 Tahun 2025 di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Pasir Pangarayan berlangsung khidmat dan meriah pada Senin (28/4/2025). Kegiatan puncak ini dilaksanakan Tasyakuran secara serentak seluruh jajaran Pemasyarakatan Indonesia via zoom meeting. Hadir langsung di Lapas Pasir Pangarayan Bupati Rokan Hulu Anton,S.T.M.M yang diwakilkan Sekretaris Daerah M. Zaki,Ketua Dprd Rokan Hulu Hj Sumiartini, Kepala Kejaksaan Negeri Rokan Hulu, Ketua Pengadilan Negeri Pasir Pengaraian, Ketua Pengadilan Agama Pasir Pengaraian,dan Kepala Kementerian Agama Rohul. Dalam sambutan nya via virtual Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyampaikan Enam puluh satu tahun Pemasyarakatan, bukan sekadar hitungan waktu. Ini juga setara dengan ribuan kisah pengabdian, ribuan pekik perjuangan dan tentunya kesediaan tanpa pamrih dari para petugas yang bekerja dalam sunyi, menjaga api pembinaan tetap menyala di tengah ge...

Kejati Riau Geledah Kantor Disdikbud Rohil, Usut Dugaan Korupsi DAK Rp40 Miliar

Serangkaian kegiatan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau menggeledah Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) di Bagansiapiapi, Rabu (30/4/2025). Langkah ini merupakan bagian dari penyidikan kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan dan rehabilitasi Sekolah Dasar (SD) tahun anggaran 2023. ROKAN HILIR, SABTANEWS.COM – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau menggeledah Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) di Bagansiapiapi, Rabu (30/4/2025). Langkah ini merupakan bagian dari penyidikan kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan dan rehabilitasi Sekolah Dasar (SD) tahun anggaran 2023. “Penggeledahan dilakukan oleh Tim Penyidik pada Bidang Tindak Pidana Khusus Kejati Riau,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Riau, Zikrullah. Dari penggeledahan itu, penyidik menyita sejumlah dokumen penting dan satu unit laptop yang diduga digunakan untuk menyusun rekapitulasi dana proyek. Data awal m...