Aroma lumpur bercampur duka menyelimuti Desa Cempedak. Di tengah puing-puing kandang yang porak-poranda di sapu banjir bandang yang menerjang Aceh, warga kini hanya bisa menatap bangkai ternak mereka yang selama ini menjadi sumber harapan, kini hilang dalam sekejap mata.
Pan, salah satu warga, tidak mampu menahan getaran suaranya saat mengisahkan kembali momen mencekam itu. Banjir datang begitu cepat, tanpa memberi kesempatan untuk menyelamatkan apa pun.
“Banjir besar menghantam Desa Cempedak. Kami cuma sempat selamatkan nyawa kami. Kambing-kambing itu… semuanya mati, Bang. Ratusan. Kami tak bisa buat apa-apa,” ucap Pan, melalui pesan seluler, senin (8/12/2025) kepada tim Bnews.Id di Medan.
Dijelaskannya. Bagi warga Desa Cempedak, kambing bukan sekadar ternak. Itu tabungan, modal hidup, dan harapan masa depan anak-anak mereka. Kini semuanya lenyap.
“Hilang diseret banjir bandang yang tak memberi ampun dan tabungan bertahun-tahun kini hilang dalam satu malam,”sebutnya.
Sebagian warga yang selamat kini berjalan pelan melewati sisa lumpur tebal di dalam rumah mereka, mencoba memulihkan apa yang tersisa. Tetapi ekonomi mereka telah runtuh, dan tidak banyak yang bisa diselamatkan.
“Kami sekarang hanya bisa bersihkan lumpur dalam rumah. Sedih sekali, Bang. Kalau ada yang dengar jeritan kami, tolonglah kami butuh makanan, air bersih untuk bertahan,” lanjut Pan.
Jeritan warga Aceh Utara bukan sekadar tentang kehilangan harta benda. Ini tentang kehilangan masa depan, kehilangan penghidupan, dan kehilangan kekuatan untuk bangkit dalam waktu singkat. Warga yang selama ini hidup dari hasil ternak kini terpuruk, memandang masa depan dengan cemas. Bencana ini bukan hanya merusak tanah mereka bencana ini merampas napas ekonomi rakyat kecil.
“Yang tersisa hanyalah semangat bertahan dan harapan akan uluran tangan dari mereka yang peduli bang,” tutup pan, saat mendengar suaranya hampir pecah sedih.

Komentar
Posting Komentar