Oleh Sabam Tanjung Artikel Opini Demokrasi elektoral seharusnya tidak berhenti di bilik suara. Namun dalam praktiknya, pasca Pilkada, yang sering terjadi justru sebaliknya: suara rakyat terutama perempuan perlahan dipinggirkan, sementara lingkaran kekuasaan semakin menyempit pada kolega, kerabat, dan jejaring kepentingan. Dalam setiap tahapan Pilkada, perempuan memegang peran yang sangat strategis. Mereka bukan hanya pemilih, tetapi penggerak. Dari dapur ke posyandu, dari arisan ke majelis taklim, perempuan khususnya ibu-ibu menjadi simpul utama penyebaran pesan politik dan pembentuk opini publik. Tanpa keterlibatan mereka, banyak kandidat tak akan sampai ke kursi kekuasaan. Namun ironi demokrasi itu muncul setelah kemenangan diraih. Dari Pendukung Menjadi Penonton Pasca-Pilkada, tidak sedikit perempuan pendukung kepala daerah justru merasa kehilangan ruang partisipasi. Aspirasi yang dulu didengar kini tak lagi mendapat tempat. Mereka tidak diajak bicara, tidak dilibatkan dalam pe...
Selamat pagi,
Selamat memulai kegiatan di minggu ini dengan Semangat dan penuh Sukacita untuk meraih Kesuksesan.
Semoga semua usaha, pekerjaan dan kegiatan yang direncanakan dalam minggu ini dapat berjalan aman, lancar dan sukses sesuai Doa dan Harapan.
Serta Bapak dan Keluarga selalu dalam keadaan sehat serta dijauhkan dari segala jenis penyakit. Amin!
Salam hormat dan Doa kami
DANDENPOM I/5 MEDAN
Letkol CPM Hanri Wira Kusuma, S.H., M.Han. dan keluarga.
Komandan Denpom I/5 Medan Letkol CPM Hanri Wira Kusuma M.Han. Menyapa Masyarakat S.H.

Komentar
Posting Komentar