DPC GRIB JAYA KABUPATEN KAMPAR MELAKUKAN KEGIATAN BAKTI SOSIAL, BAGIKAN PAKET SEMBAKO KEPADA ANAK YATIM DAN MASYARAKAT KURANG MAMPU


Bangkinang --- SABTANEWS.COM 10 Februari 2025.


Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB JAYA) Kabupaten Kampar melakukan kegiatan Bakti Sosial dengan membagikan paket sembako kepada ratusan anak yatim dan warga kurang mampu (kaum dhuafa), di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar beberapa waktu yang lalu.


Dalam kegiatan tersebut Ketua DPC GRIB Jaya Kabupaten Kampar Sampang Sitepu menyatakan, bakti sosial ini sejatinya merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menunjukkan rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.


"Alhamdulillah. Kemarin, GRIB Jaya Kabupaten Kampar dapat berbagi dengan masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Kampar Hal ini sebagai bentuk rasa syukur kami dan kepedulian GRIB terhadap masyarakat yang membutuhkan," ujarnya.


Sampang Sitepu lebih lanjut mengutarakan, pemberian sembako ini mungkin tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan sehari-hari di rumah para penerima, tapi setidaknya dapat mengurangi beban dari kebutuhan hidup mereka.


"Kami berharap, para penerima tetap mendoakan GRIB Jaya agar menjadi organisasi yang bisa bermanfaat bagi masyarakat luas," serta menyebutkan bahwa kegiatan bakti sosial itu adalah program yang memang dianjurkan oleh Ketua Umum (Ketum) GRIB Jaya, H Hercules.


Sementara itu, perwakilan penerima bantuan mengaku senang sekaligus berterimakasih atas kegiatan bakti sosial yang dilakukan keluarga besar GRIB Jaya Kabupaten Kampar.


"Terimakasih. Bantuan paket bahan pangan ini tentunya sangat bermanfaat bagi kehidupan keluarga kami sehari-hari. Kiranya, Allah SWT dapat membalas kebaikan dari GRIB Jaya," ucapnya salah seoramg penerima Bantuan ibu sinta (45 th).


Adapun paket sembako yang dibagikan berupa beras, minyak goreng, gula pasir, mie instan, kopi dan teh, dan khusus untuk anak - anak yatim, GRIB Kabupaten Kampar juga memberikan sedikit bantuan berupa uang sosial dengan tujuan membantu kebutihan harian mereka.


Ikut hadir pada kegiatan bakti sosial itu, Personil Dit Intelkam Polda Riau, Ketua PAC Kecamatan GRIB Jaya se Kabupaten Kampar,  serta seluruh Pengurus dan Keluarga Besar GRIB Jaya Kabupaten Kampar.


Dalam Kegiatan Bakti Sosial tersebut GRIB Jaya Kabupaten Kampar Sampang Sitepu, juga menyampaikan Komitmennya kepada seluruh anggota GRIB, tamu dan masyarakat yang hadir, bahwa GRIB Kabupaten Kampar Berkomitmen akan bersinergi dengan masyarakat serta Kepolisian untuk bersama - sama menjaga Kondusifitas Kamtibmas diwilayah Riau khususnya di Kabupaten Kampar agar tetap aman damai dan kondusif.


"Saya Sampang Sitepu selaku Ketua GRIB Kabupaten Kampar bersama seluruh jajaran GRIB Kabupaten Kampar, siap membantu Polda Riau dalam menjaga kondusifitas Kamtibmas diwilayah Riau Khususnya Kabupaten Kampar", Pungkasnya.

Komentar

POPULER

Polsek Bukit Raya Gelar Patroli Asmara Subuh, 21 Kendaraan Berknalpot Brong Diamankan

*Sambut Ramadhan, Kepala SMAN 1 Tapung Kampar Ajak Siswa Perkuat Akhlak dan Karakter*

Presiden Prabowo Resmikan Unhan, Wamen Viva Yoga: Mencetak Patriot Bangsa yang Cerdas, Unggul, dan Cinta Tanah Air

Kajati Riau Hadiri Buka Puasa Bersama Lembaga Adat Melayu Riau

Reza Aulia Tegaskan Tak Ada Pemotongan Gaji THL, DLHK Pekanbaru Lakukan Penyesuaian Sistem Sesuai Regulasi

Kemenangan Kongres Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa Universitas LancangKuning Periode 2026–2027

Polsek Siak Hulu Tangkap Pelaku Narkoba Jenis Pil Extasi Merk Youtobe

Menilai Pemasyarakatan Riau Secara Utuh di Tengah Sorotan Publik

Leo Nardus Sihotang Apresiasi Tim Pencap Wadokai Kabupaten Dairi Yang Raih Medali Emas

DPRD Pekanbaru Pastikan Keadilan bagi 400 Jiwa Warga yang Terancam Kehilangan Tempat Tinggal,Sengketa Lahan di Meranti Pandak, PEKANBARU – Sengketa lahan seluas 2,1 hektare di Jalan Pesisir, Kelurahan Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, yang mengancam tempat tinggal sekitar 400 jiwa, mendapat perhatian DPRD Kota Pekanbaru. Anggota Komisi I dan Komisi II DPRD Kota Pekanbaru turun langsung ke lokasi, Jumat (20/2/2026), untuk mendengar aspirasi warga yang mengaku telah bermukim sejak akhir 1960-an. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Anggota Komisi I DPRD Kota Pekanbaru, Firmansyah, serta Anggota Komisi II DPRD Kota Pekanbaru, Syamsul Bahri. Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan adanya klaim kepemilikan tanah berdasarkan Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) tahun 2010 atas nama PT Kaluku Perma Wood Industries. Padahal, menurut warga, kawasan tersebut telah dihuni turun-temurun sejak 1968. Firmansyah mengatakan, pihaknya menerima laporan adanya dugaan tumpang tindih lahan. “Sore hari ini kami bersama Pak Syamsul Bahri dan masyarakat di Jalan Pesisir mendengarkan aspirasi warga terkait pengaduan adanya dugaan tumpang tindih tanah,” ujarnya. Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan warga, selama puluhan tahun tidak pernah ada pihak yang datang mengaku memiliki tanah tersebut. Namun sejak 2024 hingga 2026, muncul klaim berdasarkan HGB tahun 2010. “Nah ini yang nanti akan kami koordinasikan dengan BPN. Kami ingin mempertanyakan apa dasar penerbitan HGB tersebut,” kata Firmansyah. Menurut Firmansyah, DPRD akan meminta masyarakat menyampaikan laporan tertulis resmi ke DPRD Kota Pekanbaru agar dapat ditindaklanjuti secara kelembagaan. “Kami minta masyarakat membuat surat laporan tertulis ke DPRD. Setelah itu, kami akan berkoordinasi dengan BPN untuk mempertanyakan dasar BPN mengeluarkan HGB tersebut,” ujarnya. Ia menegaskan, pihaknya belum melihat secara lengkap alas hak atau dokumen dasar yang menjadi landasan penerbitan sertifikat. “Surat yang tadi kami lihat, kami belum melihat dasar-dasar alas hak yang menjadi dasar BPN mengeluarkan HGB itu,” katanya. Terkait dugaan kejanggalan, Firmansyah menyebut detailnya akan dibahas lebih lanjut dalam rapat komisi bersama BPN. “Detail-detailnya nanti kami buka data di komisi. Intinya, kami akan mempertanyakan apa dasar pemilik mengklaim ini tanahnya. Kalau berdasarkan HGB 2010, tentu kita akan telusuri ke belakang BPN mengeluarkan itu atas dasar apa,” ujarnya. Senada dengan Firmansyah, Syamsul Bahri menyampaikan bahwa ia secara pribadi mengetahui kawasan tersebut telah lama dihuni warga. “Seingat saya, sejak 1968 tidak ada yang mengaku punya tanah di dua persil yang sekarang terbit HGB ini,” ujarnya. Ia berharap Komisi I DPRD dapat segera memanggil BPN dan pihak yang mengklaim kepemilikan, termasuk kuasa hukum perusahaan, untuk memastikan duduk persoalan secara objektif. “Kita ingin memastikan masyarakat mendapatkan keadilan yang betul-betul,” katanya. Syamsul menegaskan, DPRD tidak serta-merta memihak, tetapi ingin melihat fakta hukum secara menyeluruh. “Kalau memang tanah itu hak mereka (pengklaim), tentu masyarakat harus siap menerima. Tapi kalau ternyata ada unsur yang tidak sesuai dalam proses penerbitan surat tersebut, kita berharap DPRD membantu masyarakat menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya. Ia juga meminta pemerintah kota memikirkan solusi kemanusiaan apabila sengketa ini berujung pada pengosongan lahan. “Kalau memang tanah itu milik pihak lain atau pemerintah, bagaimana nasib masyarakat yang sudah lama membangun rumah? Pemerintah harus hadir supaya masyarakat tetap bisa hidup dengan nyaman,” kata Syamsul. Sengketa ini bermula dari klaim HGB tahun 2010 yang disebut mencakup lahan sekitar 2,1 hektare di RT 01, 02, 03, 05 di RW 06 dan RW 07, Jalan Pesisir, Kelurahan Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru. Warga mengaku tidak pernah mengetahui adanya proses pengukuran atau pemberitahuan penerbitan sertifikat pada 2010. Sementara pihak pengklaim disebut datang pada 2024–2025 dengan membawa kuasa hukum dan rencana pemagaran. Kehadiran DPRD ke lokasi diharapkan menjadi pintu masuk penyelesaian secara kelembagaan. Firmansyah menegaskan, DPRD akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan proses ini transparan. “Atensi kita jelas. Kita akan mempertanyakan dasar hukum klaim tersebut dan memastikan tidak ada pihak yang dirugikan tanpa proses yang adil,” ujarnya. Sementara warga berharap, langkah DPRD memanggil BPN dan pihak terkait dapat membuka tabir proses penerbitan HGB 2010 yang kini dipersoalkan. Di tengah ketidakpastian, kehadiran wakil rakyat memberi secercah harapan bagi ratusan jiwa yang kini hidup dalam bayang-bayang kehilangan rumah mereka. ***