SABTANEWS.COM - The heavy equipment deployed by the Indonesian Army includes 18 PC 200 excavators, 3 long-arm excavators, 7 bulldozers, 25 dump trucks, 2 fuel tankers, 27 personnel transport trucks, and 7 fire trucks. All of the defense equipment was delivered by sea using ADRI ships or by land, depending on the conditions of the target area. In addition, 20 units of water purification vehicles were also handed over as assistance from the Coordinating Ministry for Political and Security Affairs (Kemenko Polkam), with the handover witnessed directly by Coordinating Minister for Political and Security Affairs Djamari Chaniago and Army Chief of Staff General Maruli Simanjuntak. The Army Chief of Staff hopes the deployment of this heavy equipment will expedite the post-disaster recovery process, allowing community activities, including teaching and learning in schools, to return to normal as soon as possible. (Dispenad) Last updated on 7 January 2026
SABTANEWS COM - DAIRI - Dalam upaya mewujudkan masyarakat yang hidup rukun, damai, dan harmonis. Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara melalui Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi mengadakan program Pembinaan Desa Sitinjo sebagai Desa Sadar Kerukunan untuk Penguatan Moderisasi Beragama di Gedung PLUT KUMKM Raja Ekuten Asah Ujung Van Keppas Sidikalang, Rabu (21/8/2024).
Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Dairi H. Riswan Gaja, S.Ag, M.M. menyampaikan bahwa Desa Sitinjo diajukan sebagai salah satu desa untuk percobaan dalam program desa sadar kerukunan dan penguatan moderisasi beragama karena melihat keanekaragaman agama di Desa Sitinjo. Dimana terdapat rumah ibadah Islam, Kristen, Katolik, dan agama lainnya sehingga layak menjadi contoh bagi desa lain dimasa mendatang.
“Harapannya, melalui pembinaan ini kita bisa menunjukkan bahwa semua agama memiliki nilai-nilai yang sama. Semoga kegiatan ini dapat menciptakan kerukunan dan harmoni diantara seluruh umat beragama,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara Dr. H. Awaluddin menekankan pentingnya memahami perbedaan antara moderisasi agama dan moderisasi beragama.
Menurutnya, yang perlu diubah adalah cara pandang setiap umat beragama terhadap perbedaan agar semua umat dapat saling menghargai dan bersama-sama membangun desa yang rukun dan harmonis.
“Musuh kita bukanlah agama melainkan kemiskinan dan kebodohan,” ucapnya.
Awaluddin berharap pembinaan ini dapat membawa perubahan positif dalam mewujudkan nilai-nilai toleransi dan penguatan moderisasi beragama di masyarakat pedesaan, khususnya di Desa Sitinjo.
Kegiatan ini dihadiri oleh aparat desa, kepala adat, dan tokoh agama karena berperan penting mewujudkan program desa sadar kerukunan beragama. (Gandali)
Komentar
Posting Komentar