Kapolresta Pekanbaru Tinjau Lokasi Banjir di Rumbai dan Salurkan Bantuan untuk Pengungsi


PEKANBARU, SABTANEWS.COM – Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Jeki Rahmat Mustika, S.I.K., bersama rombongan meninjau langsung lokasi banjir dan tenda-tenda pengungsian korban banjir di Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, pada Selasa (4/3/2025) sore. 

Dalam kunjungan yang berlangsung sejak pukul 16.30 WIB tersebut, Kapolresta Pekanbaru didampingi oleh Kapolsek Rumbai Pesisir, Kompol Budi Pramana, S.Psi., serta jajaran Forkopimcam Kecamatan Rumbai. Rombongan juga disambut oleh Camat Rumbai Abdul Rahman, S.IP., M.Si., Kasat Lantas Polresta Pekanbaru AKP I Made Juni Artawan, S.I.K., M.H., serta personel kepolisian lainnya dari Polsek Rumbai Pesisir. 

Meninjau Kondisi Warga Terdampak 

Kapolresta beserta rombongan memulai kunjungan dengan mendatangi rumah-rumah warga di Jalan Koramil, Kelurahan Meranti Pandak, yang terdampak banjir akibat pasang surut Sungai Siak yang diperparah oleh tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah rumah terlihat masih terendam air, sementara beberapa warga telah mengungsi ke tenda-tenda darurat yang disediakan pemerintah setempat. 

Selain meninjau kondisi pemukiman, Kapolresta juga menyambangi tenda-tenda pengungsian untuk berdialog langsung dengan warga yang terdampak. Beberapa pengungsi menyampaikan harapan agar pemerintah dan pihak terkait dapat segera memberikan bantuan lebih lanjut, termasuk kebutuhan logistik dan penanganan kesehatan bagi mereka yang terdampak. 

Bantuan Sembako untuk Pengungsi 

Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak banjir, Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Jeki Rahmat Mustika, S.I.K., secara simbolis menyerahkan bantuan sembako kepada perwakilan pengungsi. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban warga yang saat ini masih bertahan di tempat pengungsian akibat banjir yang belum sepenuhnya surut. 

Kapolresta juga menegaskan bahwa pihak kepolisian akan terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan keamanan serta kelancaran distribusi bantuan kepada masyarakat. 

“Kami hadir di sini untuk memastikan kondisi warga yang terdampak dan membantu semaksimal mungkin. Kami juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan selalu menjaga keselamatan,” ujar Kapolresta Pekanbaru. 

Situasi Kondusif Selama Kegiatan 

Kunjungan Kapolresta Pekanbaru dan rombongan berlangsung hingga pukul 17.40 WIB dalam situasi yang lancar dan kondusif. Warga setempat menyambut baik kehadiran pihak kepolisian serta berharap adanya tindak lanjut dari pemerintah dalam menangani dampak banjir yang terjadi. 

Pihak kepolisian bersama instansi terkait juga terus mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang masih bertahan di rumah masing-masing meskipun terdampak banjir. 

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat terus terjalin guna menghadapi berbagai situasi darurat, termasuk bencana banjir yang rutin terjadi di wilayah Rumbai.

Komentar

POPULER

Kemenangan Kongres Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa Universitas LancangKuning Periode 2026–2027

Polsek Bukit Raya Gelar Patroli Asmara Subuh, 21 Kendaraan Berknalpot Brong Diamankan

Presiden Prabowo Resmikan Unhan, Wamen Viva Yoga: Mencetak Patriot Bangsa yang Cerdas, Unggul, dan Cinta Tanah Air

*Sambut Ramadhan, Kepala SMAN 1 Tapung Kampar Ajak Siswa Perkuat Akhlak dan Karakter*

Kajati Riau Hadiri Buka Puasa Bersama Lembaga Adat Melayu Riau

Polsek Siak Hulu Tangkap Pelaku Narkoba Jenis Pil Extasi Merk Youtobe

Reza Aulia Tegaskan Tak Ada Pemotongan Gaji THL, DLHK Pekanbaru Lakukan Penyesuaian Sistem Sesuai Regulasi

Menilai Pemasyarakatan Riau Secara Utuh di Tengah Sorotan Publik

Leo Nardus Sihotang Apresiasi Tim Pencap Wadokai Kabupaten Dairi Yang Raih Medali Emas

DPRD Pekanbaru Pastikan Keadilan bagi 400 Jiwa Warga yang Terancam Kehilangan Tempat Tinggal,Sengketa Lahan di Meranti Pandak, PEKANBARU – Sengketa lahan seluas 2,1 hektare di Jalan Pesisir, Kelurahan Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, yang mengancam tempat tinggal sekitar 400 jiwa, mendapat perhatian DPRD Kota Pekanbaru. Anggota Komisi I dan Komisi II DPRD Kota Pekanbaru turun langsung ke lokasi, Jumat (20/2/2026), untuk mendengar aspirasi warga yang mengaku telah bermukim sejak akhir 1960-an. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Anggota Komisi I DPRD Kota Pekanbaru, Firmansyah, serta Anggota Komisi II DPRD Kota Pekanbaru, Syamsul Bahri. Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan adanya klaim kepemilikan tanah berdasarkan Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) tahun 2010 atas nama PT Kaluku Perma Wood Industries. Padahal, menurut warga, kawasan tersebut telah dihuni turun-temurun sejak 1968. Firmansyah mengatakan, pihaknya menerima laporan adanya dugaan tumpang tindih lahan. “Sore hari ini kami bersama Pak Syamsul Bahri dan masyarakat di Jalan Pesisir mendengarkan aspirasi warga terkait pengaduan adanya dugaan tumpang tindih tanah,” ujarnya. Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan warga, selama puluhan tahun tidak pernah ada pihak yang datang mengaku memiliki tanah tersebut. Namun sejak 2024 hingga 2026, muncul klaim berdasarkan HGB tahun 2010. “Nah ini yang nanti akan kami koordinasikan dengan BPN. Kami ingin mempertanyakan apa dasar penerbitan HGB tersebut,” kata Firmansyah. Menurut Firmansyah, DPRD akan meminta masyarakat menyampaikan laporan tertulis resmi ke DPRD Kota Pekanbaru agar dapat ditindaklanjuti secara kelembagaan. “Kami minta masyarakat membuat surat laporan tertulis ke DPRD. Setelah itu, kami akan berkoordinasi dengan BPN untuk mempertanyakan dasar BPN mengeluarkan HGB tersebut,” ujarnya. Ia menegaskan, pihaknya belum melihat secara lengkap alas hak atau dokumen dasar yang menjadi landasan penerbitan sertifikat. “Surat yang tadi kami lihat, kami belum melihat dasar-dasar alas hak yang menjadi dasar BPN mengeluarkan HGB itu,” katanya. Terkait dugaan kejanggalan, Firmansyah menyebut detailnya akan dibahas lebih lanjut dalam rapat komisi bersama BPN. “Detail-detailnya nanti kami buka data di komisi. Intinya, kami akan mempertanyakan apa dasar pemilik mengklaim ini tanahnya. Kalau berdasarkan HGB 2010, tentu kita akan telusuri ke belakang BPN mengeluarkan itu atas dasar apa,” ujarnya. Senada dengan Firmansyah, Syamsul Bahri menyampaikan bahwa ia secara pribadi mengetahui kawasan tersebut telah lama dihuni warga. “Seingat saya, sejak 1968 tidak ada yang mengaku punya tanah di dua persil yang sekarang terbit HGB ini,” ujarnya. Ia berharap Komisi I DPRD dapat segera memanggil BPN dan pihak yang mengklaim kepemilikan, termasuk kuasa hukum perusahaan, untuk memastikan duduk persoalan secara objektif. “Kita ingin memastikan masyarakat mendapatkan keadilan yang betul-betul,” katanya. Syamsul menegaskan, DPRD tidak serta-merta memihak, tetapi ingin melihat fakta hukum secara menyeluruh. “Kalau memang tanah itu hak mereka (pengklaim), tentu masyarakat harus siap menerima. Tapi kalau ternyata ada unsur yang tidak sesuai dalam proses penerbitan surat tersebut, kita berharap DPRD membantu masyarakat menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya. Ia juga meminta pemerintah kota memikirkan solusi kemanusiaan apabila sengketa ini berujung pada pengosongan lahan. “Kalau memang tanah itu milik pihak lain atau pemerintah, bagaimana nasib masyarakat yang sudah lama membangun rumah? Pemerintah harus hadir supaya masyarakat tetap bisa hidup dengan nyaman,” kata Syamsul. Sengketa ini bermula dari klaim HGB tahun 2010 yang disebut mencakup lahan sekitar 2,1 hektare di RT 01, 02, 03, 05 di RW 06 dan RW 07, Jalan Pesisir, Kelurahan Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru. Warga mengaku tidak pernah mengetahui adanya proses pengukuran atau pemberitahuan penerbitan sertifikat pada 2010. Sementara pihak pengklaim disebut datang pada 2024–2025 dengan membawa kuasa hukum dan rencana pemagaran. Kehadiran DPRD ke lokasi diharapkan menjadi pintu masuk penyelesaian secara kelembagaan. Firmansyah menegaskan, DPRD akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan proses ini transparan. “Atensi kita jelas. Kita akan mempertanyakan dasar hukum klaim tersebut dan memastikan tidak ada pihak yang dirugikan tanpa proses yang adil,” ujarnya. Sementara warga berharap, langkah DPRD memanggil BPN dan pihak terkait dapat membuka tabir proses penerbitan HGB 2010 yang kini dipersoalkan. Di tengah ketidakpastian, kehadiran wakil rakyat memberi secercah harapan bagi ratusan jiwa yang kini hidup dalam bayang-bayang kehilangan rumah mereka. ***