Kapolresta Pekanbaru Pimpin Apel Kesiapan Antisipasi Gangguan Kamtibmas


PEKANBARU, SABTANEWS.COM  – Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), Polresta Pekanbaru menggelar apel kesiapan antisipasi gangguan Kamtibmas yang mencakup potensi tawuran antar geng motor, konflik antara organisasi masyarakat (ormas) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) dan Pemuda Pancasila (PP), serta aksi balap liar di wilayah hukum Polresta Pekanbaru. 

Apel kesiapan ini dipimpin langsung oleh Kapolresta Pekanbaru, Kombespol Jeki Rahmat Mustika, S.I.K., pada Sabtu (1/2/2025) pukul 23.00 WIB di halaman Kantor Samsat Kota Pekanbaru. Kegiatan ini diikuti oleh 183 personel gabungan yang terdiri dari 30 personel Satuan Brimob Polda Riau dan 153 personel gabungan dari Polresta Pekanbaru. 

Dalam arahannya, Kapolresta Pekanbaru menegaskan pentingnya kesiapan seluruh personel dalam menghadapi potensi gangguan Kamtibmas yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di wilayah hukum Polresta Pekanbaru. "Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa jajaran kepolisian siap merespons berbagai kemungkinan gangguan yang dapat terjadi di tengah masyarakat," ujar Kombespol Jeki Rahmat Mustika. 

Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa patroli dan langkah-langkah pencegahan akan terus ditingkatkan guna mengantisipasi aksi tawuran, gesekan antar ormas, dan balap liar yang sering terjadi di sejumlah titik di Pekanbaru. 

Apel kesiapan ini juga menjadi bentuk komitmen Polresta Pekanbaru dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif, terutama dalam menghadapi berbagai dinamika sosial yang dapat memicu gangguan keamanan. 

Peningkatan Patroli dan Pencegahan Dini 

Selain pelaksanaan apel kesiapan, Polresta Pekanbaru akan mengintensifkan patroli di sejumlah lokasi yang rawan terjadinya gangguan Kamtibmas. Tim gabungan akan diterjunkan untuk mengantisipasi titik-titik rawan di berbagai kecamatan yang sering menjadi tempat aksi balap liar maupun titik berkumpulnya kelompok yang berpotensi menimbulkan konflik. 

"Langkah-langkah preventif ini akan terus dilakukan agar masyarakat merasa aman dan terlindungi dari berbagai bentuk gangguan keamanan," tambah Kapolresta Pekanbaru. 

Dengan adanya apel kesiapan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih tenang dan merasa terjaga keamanannya. Polresta Pekanbaru juga mengimbau masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menjaga situasi Kamtibmas dengan melaporkan kepada pihak kepolisian jika menemukan potensi gangguan keamanan di lingkungan sekitarnya. 

Apel ini ditutup dengan pengecekan kesiapan personel dan peralatan pendukung yang akan digunakan dalam pelaksanaan patroli serta pengamanan di lapangan.

Komentar

POPULER

Polsek Bukit Raya Gelar Patroli Asmara Subuh, 21 Kendaraan Berknalpot Brong Diamankan

*Sambut Ramadhan, Kepala SMAN 1 Tapung Kampar Ajak Siswa Perkuat Akhlak dan Karakter*

Presiden Prabowo Resmikan Unhan, Wamen Viva Yoga: Mencetak Patriot Bangsa yang Cerdas, Unggul, dan Cinta Tanah Air

Reza Aulia Tegaskan Tak Ada Pemotongan Gaji THL, DLHK Pekanbaru Lakukan Penyesuaian Sistem Sesuai Regulasi

Kemenangan Kongres Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa Universitas LancangKuning Periode 2026–2027

Kajati Riau Hadiri Buka Puasa Bersama Lembaga Adat Melayu Riau

Polsek Siak Hulu Tangkap Pelaku Narkoba Jenis Pil Extasi Merk Youtobe

Leo Nardus Sihotang Apresiasi Tim Pencap Wadokai Kabupaten Dairi Yang Raih Medali Emas

DPRD Pekanbaru Pastikan Keadilan bagi 400 Jiwa Warga yang Terancam Kehilangan Tempat Tinggal,Sengketa Lahan di Meranti Pandak, PEKANBARU – Sengketa lahan seluas 2,1 hektare di Jalan Pesisir, Kelurahan Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, yang mengancam tempat tinggal sekitar 400 jiwa, mendapat perhatian DPRD Kota Pekanbaru. Anggota Komisi I dan Komisi II DPRD Kota Pekanbaru turun langsung ke lokasi, Jumat (20/2/2026), untuk mendengar aspirasi warga yang mengaku telah bermukim sejak akhir 1960-an. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Anggota Komisi I DPRD Kota Pekanbaru, Firmansyah, serta Anggota Komisi II DPRD Kota Pekanbaru, Syamsul Bahri. Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan adanya klaim kepemilikan tanah berdasarkan Sertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) tahun 2010 atas nama PT Kaluku Perma Wood Industries. Padahal, menurut warga, kawasan tersebut telah dihuni turun-temurun sejak 1968. Firmansyah mengatakan, pihaknya menerima laporan adanya dugaan tumpang tindih lahan. “Sore hari ini kami bersama Pak Syamsul Bahri dan masyarakat di Jalan Pesisir mendengarkan aspirasi warga terkait pengaduan adanya dugaan tumpang tindih tanah,” ujarnya. Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan warga, selama puluhan tahun tidak pernah ada pihak yang datang mengaku memiliki tanah tersebut. Namun sejak 2024 hingga 2026, muncul klaim berdasarkan HGB tahun 2010. “Nah ini yang nanti akan kami koordinasikan dengan BPN. Kami ingin mempertanyakan apa dasar penerbitan HGB tersebut,” kata Firmansyah. Menurut Firmansyah, DPRD akan meminta masyarakat menyampaikan laporan tertulis resmi ke DPRD Kota Pekanbaru agar dapat ditindaklanjuti secara kelembagaan. “Kami minta masyarakat membuat surat laporan tertulis ke DPRD. Setelah itu, kami akan berkoordinasi dengan BPN untuk mempertanyakan dasar BPN mengeluarkan HGB tersebut,” ujarnya. Ia menegaskan, pihaknya belum melihat secara lengkap alas hak atau dokumen dasar yang menjadi landasan penerbitan sertifikat. “Surat yang tadi kami lihat, kami belum melihat dasar-dasar alas hak yang menjadi dasar BPN mengeluarkan HGB itu,” katanya. Terkait dugaan kejanggalan, Firmansyah menyebut detailnya akan dibahas lebih lanjut dalam rapat komisi bersama BPN. “Detail-detailnya nanti kami buka data di komisi. Intinya, kami akan mempertanyakan apa dasar pemilik mengklaim ini tanahnya. Kalau berdasarkan HGB 2010, tentu kita akan telusuri ke belakang BPN mengeluarkan itu atas dasar apa,” ujarnya. Senada dengan Firmansyah, Syamsul Bahri menyampaikan bahwa ia secara pribadi mengetahui kawasan tersebut telah lama dihuni warga. “Seingat saya, sejak 1968 tidak ada yang mengaku punya tanah di dua persil yang sekarang terbit HGB ini,” ujarnya. Ia berharap Komisi I DPRD dapat segera memanggil BPN dan pihak yang mengklaim kepemilikan, termasuk kuasa hukum perusahaan, untuk memastikan duduk persoalan secara objektif. “Kita ingin memastikan masyarakat mendapatkan keadilan yang betul-betul,” katanya. Syamsul menegaskan, DPRD tidak serta-merta memihak, tetapi ingin melihat fakta hukum secara menyeluruh. “Kalau memang tanah itu hak mereka (pengklaim), tentu masyarakat harus siap menerima. Tapi kalau ternyata ada unsur yang tidak sesuai dalam proses penerbitan surat tersebut, kita berharap DPRD membantu masyarakat menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya. Ia juga meminta pemerintah kota memikirkan solusi kemanusiaan apabila sengketa ini berujung pada pengosongan lahan. “Kalau memang tanah itu milik pihak lain atau pemerintah, bagaimana nasib masyarakat yang sudah lama membangun rumah? Pemerintah harus hadir supaya masyarakat tetap bisa hidup dengan nyaman,” kata Syamsul. Sengketa ini bermula dari klaim HGB tahun 2010 yang disebut mencakup lahan sekitar 2,1 hektare di RT 01, 02, 03, 05 di RW 06 dan RW 07, Jalan Pesisir, Kelurahan Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru. Warga mengaku tidak pernah mengetahui adanya proses pengukuran atau pemberitahuan penerbitan sertifikat pada 2010. Sementara pihak pengklaim disebut datang pada 2024–2025 dengan membawa kuasa hukum dan rencana pemagaran. Kehadiran DPRD ke lokasi diharapkan menjadi pintu masuk penyelesaian secara kelembagaan. Firmansyah menegaskan, DPRD akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan proses ini transparan. “Atensi kita jelas. Kita akan mempertanyakan dasar hukum klaim tersebut dan memastikan tidak ada pihak yang dirugikan tanpa proses yang adil,” ujarnya. Sementara warga berharap, langkah DPRD memanggil BPN dan pihak terkait dapat membuka tabir proses penerbitan HGB 2010 yang kini dipersoalkan. Di tengah ketidakpastian, kehadiran wakil rakyat memberi secercah harapan bagi ratusan jiwa yang kini hidup dalam bayang-bayang kehilangan rumah mereka. ***

DPP SPI Desak Kapolda Sulteng, Mabes Polri, dan Dorong “Pengadilan Kejahatan Pers” atas Kasus Kekerasan Jurnalis di IMIP